( Shazas Story )
*JDARRRR
Kepulan asap yang dihasilkan dari ledakan api yang di campur bensin itu cukup besar dan membuatnya seperti awan hitam. Ledakan bensin itu mengakibatkan efek angin yang lumayan kencang.
"RAAAAANS!!! " Teriakku kearah ledakan itu.
Rans yang tak bisa lari dari sana pastinya menerima ledakan itu dengan telak. mungkin dia sekarang sudah..
" Uhuk! Uhuk ! Uhuk! " suara orang yang batuk terdengar dari arah ledakan disana. Sosok seseorang yang sedang memikul seorang lagi terlihat dari balik asap hitam tersebut. Pandangan langsung ku fokuskan ke arah bayangan yang samar-samar itu.
" Uhuk ! " terlihat Lenneth dengan SSG-69 sorban di punggungnya tengah memikul Rans yang batuk-batuk karena asap yang menganggu pernafasan. sedangkan Lenneth terlihat tenang-tenang saja, mereka mendekat ke arahku dan Rans di sandarkan di tembok. Sosok Rans masih utuh, hanya baju putihnya saja yang agak kehitam-hitaman bekas ledakan tadi.
" Lenneth. Thanks ya.. kalau kau tidak menolongku sesaat sebelum ledakan tadi pastinya aku sudah menjadi abu gosong sekarang.. ucap Rans ke Lenneth.
Lenneth tak membalas ucapan terima kasih Rans itu, dia malah bersikap dingin. Senjata sniper yang di sorban itu tiba-tiba ia angkat dan di keker ke arah mobil berwarna coklat yang cukup jauh dari sini. Tak lama kemudian dia menembak ke arah mobil itu. Cara menembak nya berbeda dari Sniper biasa. Dia membanting senjatanya itu ke atas ketika peluru sudah di tembakkan.
*Wuzz
Apa? Apa aku tak salah dengar?
Ia mengeker lagi ke arah Rebels yang dari tadi masih menembaki kami dari arah rumah yang tampak seperti supermarket ( soalnya ada meja kasir disana ) .
*Wuzz
Tidak mungkin !
" URYAAA!!! " Teriak seseorang yang sepertinya seorang Rebels datang dari gang di sebelah kanan Lenneth dan membawa 1 temannya. Mereka berdua memakai Dual-Knife dan siap untuk menikam dia dari samping.
Lenneth tampak tak terkejut sama sekali. Ia mengarahkan Sniper nya itu ke arah Rebels yang paling dekat dengannya. Lenneth kemudian membanting Snipernya ke atas. Dan tiba-tiba Rebels itu jatuh. Rebels 1 lagi pun mengalami nasib yang sama. Lenneth hanya mengarahkan Sniper ke arahnya tanpa mengeker dan membanting senjata api nya itu ke atas lalu tiba-tiba dia jatuh. Setelah itu Lenneth me-reload SSG-69 nya.
Aku mendekat ke tubuh Rebels yang tergeletak itu. Sebuah lubang bundar bekas peluru terlihat dari dada mereka berdua. Mustahil! Sejak kapan?
Suara tembakan pertama dan kedua Lenneth terdengar seperti hembusan angin.
Dan yang ketiga dan keempat sama sekali tak terdengar apa pun!
" Lenneth, bagaimana bisa? " tanyaku
Lenneth kemudian menatapku , lalu bibirnya terangkat pelan lalu berkata " ini kemampuanku, Silent Shoot.. "
" Emm.. maaf aku menyela. Aku agak khawatir dengan kondisi team di Satyr, aku akan mengeceknya " ucap Rans yang sudah berdiri sambil menyimpan Molotov yang tadi di rakit oleh Rans
" Mau kutemani? " ucapku.
" Tidak. Tak usah kau disini saja. Awasi team Master Ayse dari sini.. " balas Rans.
Lalu aku mengangguk dan dia pun berangkat ke arah gang Satyr sambil membawa tas pinggang dan menyiapkan pistol Colt nya..
Aku kembali ke posisi semula dan mulai mengawasi keadaan di sekitar jalan raya lagi. Beberapa mayat Rebels Karena tembakan Silent-Shoot Lenneth tadi terlihat bergeletak di jalan. Suara tembakan sudah tak terdengar. Sepertinya sudah tak ada Rebels lagi disini.
=================================================
Kembali ke pertempuran Ayse dan Blitz.
*DREEET *DREEET *DREEEET
*DAR *DAR *DAR *DAR *DAR
" hah hah.. hah.. Blitz.. kumohon jangan lakukan ini.. " ucap Ayse dengan nada lemas, dia sudah kelelahan menghindar peluru beruntun dari Blitz. Sedangkan Ayse ragu-ragu untuk menembaki Blitz, walaupun dia bisa membunuhnya dengan cepat.
" Kenapa? Apa kau takut nona Taylor? " sahut Blitz sambil mereload MP5K nya dan bersembunyi di balik kotak telepon.
" Cynn sudah kuanggap sebagai adik kandungku sendiri, berarti kau juga " kata Ayse
" Adikmu? JANGAN BERCANDA ! KAU TAK TAHU BAGAIMANA RASANYA PUNYA AYAH YANG SELALU MEMUKULIMU TIAP MALAM ! KAU TAK TAHU BAGAIMANA RASANYA PUNYA IBU YANG SELALU PERGI DAN MENINGGALKAN MU SENDIRI ! KAU TAK TAHU BAGAIMANA RASANYA PUNYA KAKAK YANG TIDAK MEMBANTU MU KETIKA KAMU KESULITAN ! KAU TAK TAHU RASA SAKIT YANG AKU DERITA SELAMA INI ! " teriak Blitz dari belakang kotak telefon itu.
" Pastinya kakakmu mempunyai alasan.. " ucap Ayse perlahan
" DIAM ! " teriak Blitz lagi dari tempat yang sama.
" apakah kau sudah pernah menanyakannya? " Tanya Ayse
Blitz teringat akan memori saat ia masih berumur 5 tahun.. sedangkan kakaknya yang terpaut 5 tahun lebih tua berumur 10 tahun.
Di sebuah gubuk tua, pada malam hari. di daerah yang cukup terpencil, dan terletak di daerah yang cukup gersang
*DUAGH!!
" DASAR ANAK BODOHH!!! " teriak seorang pria sambil mengayunkan tongkat kayu panjang yang cukup keras dan padat ke seorang bocah yang badannya sudah biru-biru bekas ayunan tongkat yang sangat menyakitkan itu
" Ayah.. maaf.. a..aku tak sengaja menghabiskan nasi bungkus itu.. aku lapar yah.. " ucap bocah lelaki dengan kaos kuning yang cukup usang dan celana pendek selutut berwarna hitam itu sambil menangis.
"BOHONG ! BILANG SAJA KAU RAKUS DAN MAU MAKAN NASI ITU SENDIRIAN ! " teriak pria itu dan sekali lagi mengayunkan tongkat itu ke badan mungil bocah ini.
*DUAGH.
" Ayah.. sakit.. ampun.. huwaaa " tangis bocah itu.
Pria itu tampak tak mendengar perkataan pilu bocah ini, malah ia semakin cepat dan semakin keras memukul tongkat kayu itu.
Sosok bocah perempuan yang lebih dewasa dari bocah lelaki itu terlihat dari sela-sela pintu, ia tampak sedang menangis melihat adik satu-satunya sedang dipukuli secara tragis oleh ayahnya yang dalam kondisi mabuk itu.
" kakaak.. tolong Andrew kak.. sakiiiit.. " ucap bocah yang tengah di pukuli oleh Ayahnya sambil menadangkan tangannya ke arah kakaknya yang ada di sela-sela pintu itu berharap pertolongan dari nya. Akan tetapi , bocah perempuan itu malah lari dan meninggalkan adik satu-satunya itu di pukuli oleh Ayahnya..
" huwaaaaa ayah sudah.. sakiiiit "
Hampir setengah jam sudah ayah Andrew memukuli anaknya sendiri dengan tragis. Setelah puas melampiaskan kekesalannya pada buah hatinya, pria itu lari ke kamarnya dengan langkah yang terhuyung-huyung karena masih terkena efek alcohol dari minuman keras yang ia minum. Dengan berbagai luka lebam dan kulit berwarna biru karena pukulan tongkat itu, Andrew pergi ke halaman belakangnya , disana ia di temani oleh gelapnya malam dan sinar rembulan malam hari. Ia bersandar di pohon kering dan melihat ke atas sambil mencoba menahan tangis dan rasa sakit di sekujur tubuhnya..
Dengan langkah kaki yang pelan, seorang bocah perempuan yang berambut pendek , berkaos pink dan bercelana pendek hitam datang dari pintu yang sama tempat Andrew datang ke halaman ini.. dari jauh ia berkata..
" An.. Andrew.. " ucap kakak Andrew yang tidak lain adalah Cynthia.
" Maaf ya.. kakak tak bisa menolong mu tadi.. kakak takut.. " kata Cynthia sembari melihat adiknya yang tengah mencoba menahan tangis. Lalu ia mulai mendekat ke arah adiknya
" Ka.. Kakak.. JAHAT ! KAKAK NGA NGERTI RASA SAKIT YANG AKU RASAIN ! " teriak Andrew sambil menjauh dari jangkauan Cynthia yang sudah dekat dengannya.
Melihat ucapan adiknya itu, butiran air mata sempat mengalir dari pipi Cynthia, ia merasa malu sebagai kakak yang tidak melindungi adiknya. Ia merasa sedih melihat adik satu-satunya itu sekarang kesakitan karena pukulan dari ayah kandung mereka sendiri.
" Andrew.. Maafkan kakak yah? Nanti kakak bantu untuk menyembuhkan lukamu.. ya? " ucap Cynthia yang masih berusaha untuk mendekati adiknya.
" nga usah ! bisa sendiri ! " balas Andrew dingin. Dengan luka yang masih terasa sakit itu ia berlari ke arah depan rumah.
Kembali ke pertempuran Ayse dan Blitz.
" SUDAH LAH ! KAU TERLALU BANYAK BICARA ! " teriak Blitz . lalu ia melompat dari kotak telefon dan membabi buta Ayse dengan dual MP5Knya.
*DREEET * DREEET * DREEET.
Hampir sebanyak 70 peluru berukuran 2.62 mm itu berlari ke arah Ayse yang berdiri kokoh tanpa perlindungan , tapi tak 1 pun peluru menyentuh Ayse.
" SIAAAAAAAL " ucap blitz sambil me-reload lagi MP5K nya.
" Kau yang sekarang dalam emosi, takkan bisa menembak dengan teratur.. " sahut Ayse yang masih berdiri dengan tegap.
" MATI KAU ! " kata Blitz sambil menodongkan dual MP5Knya , akan tetapi betapa kagetnya Blitz ketika melihat suasana di depannya sudah kosong.. Ayse yang berdiri tadi pun sudah tak ada. Angin yang berhembus menemani kekagetannya itu.
*KRETEK. Suara senjata yang sedang di pasang terdengar dari arah belakang Blitz.
" Andrew Palmer, Kau di tahan dengan tuduhan sebagai pengkhianat CT-FORCE, jatuhkan senjatamu dan angkat tanganmu " ucap Rensen yang sudah ada di belakang Blitz. Di samping kiri sudah ada Cool , dan di kanan sudah ada Ayse. Mereka bertiga menodongkan senjata mereka masing-masing ke arah Blitz. Ayse dengan dual P90, Rensen dengan secondary weaponnya. MK-23, Cool dengan Dual Kriss nya.
" Si.. Sial.. " gerutu Blitz sambil melepaskan kedua senjata kembarnya itu ke tanah.
Subscribe to email feed





